Blog
October 31, 2022

Mengulik Perkembangan Survey Pemetaan di Indonesia

Survey pemetaan merupakan salah satu bidang yang kerap ditemui di beberapa pekerjaan seperti konstruksi bangunan, pertambangan, pembangunan jalan tol dan lainnya. Survey pemetaan merupakan ilmu yang mempelajari tentang keterampilan dalam pengumpulan data dan informasi kewilayahan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Di Indonesia, perkembangan survey pemetaan telah dimulai bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Perkembangan Organisasi Survey Pemetaan di Indonesia

Dari segi keorganisasian, perkembangan survey pemetaan diimulai dari jejak-jejak kehadiran penjelajah yang menjajah Indonesia, ditemukan peta-peta kuno yang mencatat kegiatan survey pemetaan di Indonesia. Terdapat berbagai hal yang terjadi selama masa pendudukan ini, mulai pada tahun 1938 pemerintahan Hindia Belanda melakukan pengukuran melalui Badan Permante Kaarterings-Commissie (Komisi Tetap untuk Pemetaan). Hasil kerja dari komisi ini tidak sesuai dengan harapan sehingga dibubarkan dan pada tahun 1948 dibentuk lembaga baru yaitu Raad en Directorium voor het Meet en Kaarteerwezen in Nederlands Indies (Dewan dan Direktorium untuk Pengukuran dan Pemetaan Hindia Belanda).

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah membubarkan Raad en Directorium voor het Meet en Kaarteerwezen in Nederlands Indies kemudian membentuk Dewan dan Direktorium Pengukuran dan Penggambaran Peta pada rentang tahun 1949 hingga 1951. Dalam organisasi ini, Dewan bertugas membuat kebijakan dan pengambilan keputusan yang kemudian akan dilaksanakan oleh bagian Direktorium.

Kinerja dari Dewan dan Direktorium ini dinilai masih tidak maksimal sehingga kembali dibubarkan dan dibentuk organisasi komando melalui Keppres No. 263 tahun 1965 yaitu Komando Survei dan Pemetaan Nasional (Kosurtanal) serta Dewan Survei dan Pemetaan Nasional (Desurtanal). Lalu pada tahun 1969 dibentuk organisasi baru yang secara khusus menangani survey dan pemetaan nasional yang disebut Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) yang menampung fungsi-fungsi badan pemetan seperti Desurtanal dan Badan Atlas Nasional.

Seiring berjalannya waktu, Bakosurtanal digantikan oleh Badan Informasi Geospasial atau BIG yang kita kenal hingga saat ini. Lahirnya BIG ditandai dengan adanya penandatanganan Peraturan Presiden Nomor 94 tahun 2011 mengenai Badan Informasi Geospasial. BIG sendiri memiliki tugas dalam bidang informasi geospasial diantaranya menjamin ketersediaan akses terhadap informasi geospasial, mewujudkan penyelenggaraan informasi geospasial yang efisien dan efektif serta mendorong penggunaan informasi geospasial dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Perkembangan Teknologi Survey Pemetaan di Indonesia

Pada zaman dahulu pengukuran dan pemetaan hanya mengandalkan kemampuan mata dan telinga manusia. Seperti waterpass yang membutuhkan bidikan dari manusia, meteran, theodolite dan pengukuran manual lainnya. Seiring perkembangan zaman, survey pemetaan juga mengalami kemajuan di bidang teknologi baik dari segi penggunaan alat maupun dalam proses pengolahan datanya. Dengan menggunakan bantuan komputer dan teknologi, surveyor dapat melakukan pengukuran dan pemetaan dalam lingkup yang lebih luas dan dalam waktu yang lebih singkat. Saat ini teknologi survey pemetaan telah diganti menggunakan sensor elektronik (digital data observation).

Berbagai alat pengukuran jarak mulai menggunakan teknologi EDM (Electronic Distance Measurement) seperti alat Waterpass Digital, Theodolite Digital, Total Station dan alat pengukuran lainnya. Bahkan saat ini hasil pemodelan dari survey pemetaan sudah dapat menghasilkan bentuk 3 dimensi dari yang sebelumnya hanya data 2 dimensi. Dengan menggunakan alat seperti TLS (Total Laser Scanner) saja kita sudah dapat memodelkan suatu objek ke dalam bentuk 3D.

Selain itu, pengolahan data juga mulai menggunakan software beraneka ragam tergantung dengan kebutuhan. Tak hanya itu, saat ini hasil akhir dari pemodelan dapat diintegrasikan dengan data lainnya menggunakan internet maupun software tertentu. Sebagai contoh, dalam konstruksi bangunan hasil pemetaan dan pemodelan 3D dapat diintegrasikan menggunakan Building Information Modelling dimana hasil tersebut dapat digabungkan dengan data lainnya dari berbagai bidang menjadi satu model sehingga proses perencanaan dan pemantauan oleh para ahli menjadi lebih maksimal.

Kemajuan teknologi membantu proses survey pemetaan dapat menemukan alat-alat survey yang canggih dan dapat digunakan dalam pengukuran serta pemetaan. Selain lebih efektif dan efisien, penggunaan alat yang semakin canggih secara digital memiliki akurasi yang tinggi daripada mengandalkan kemampuan manusia sehingga kualitas survey pemetaan dapat meningkat dan biaya yang dikeluarkan juga dapat ditekan. Namun, secanggih apapun teknologi survey pemetaan yang ada, tetap teknologi tersebut memiliki kelemahan sehingga keberadaan seorang surveyor masih sangat dibutuhkan untuk mengimbangi keterbatasan teknologi tersebut.

Continue reading

Marketing Georama
Georama Karya Indonesia
Georama Karya Indonesia
Halo
Ada yang bisa kami bantu ?
Start Whatsapp Chat